Binnalette

Light thoughts on the palette

Ima, Tonari no Kimi ni Koi wo Suru. CASE1 Drama CD Translation

Ima, Tonari no Kimi ni Koi wo Suru. CASE1 Drama CD Translation

Ini adalah terjemahan bahasa Indonesia dari Ima, Tonari no Kimi ni Koi wo Suru. CASE1 Ichinose Tsukasa (今、隣のキミに恋をする。CASE1 一ノ瀬司). Pengisi suara Ichinose Tsukasa adalah Ishikawa Kaito (石川界人).

今、隣のキミに恋をする。CASE1

Orang yang berada di sebelahmu sekarang, mungkin saja dia adalah orang yang ditakdirkan untukmu. Bagaimanakah perasaanmu, ketika kamu sedang jatuh cinta? Perasaan yang berdebar-debar, gembira, kamu hanya ingin melihatnya. Tidak dapat dihindari bahwa kamu merasa bahagia atau sedih ketika kamu mulai memperhatikan setiap hal kecil tentangnya dan memperhatikan setiap apa yang dia lakukan. Tanpa disadari, kamu telah jatuh cinta kepada orang yang berada di sebelahmu.

Catatan penting » dilarang meng-copy atau mempublikasi ulang terjemahan ini. Saya masih belajar bahasa jepang jadi kesalahan terjemahan tidak bisa dihindari (jika ada) dan bisa juga interpretasi saya dengan kamu berbeda. Jika kamu menemukan kesalahan terjemahan dan bersedia mengoreksinya, tolong kasih tau saya ya ♥

Track 01:Anak yang duduk disebelahku (隣の席)

Selamat pagiiiii...
Oi, oi, kamu berisik sekali, Tsukasa.
Pagi-pagi begini kamu sudah berisik saja.
Hey, hari baru saja dimulai, kalau tidak sekarang semangatnya, terus kapan!!?
Tapi semangatmu itu sangat menjengkelkan.
Benar, menjengkelkan dalam artian “tidak tahu diri”.
Hey, bukankah itu sama saja dengan kamu menjelek-jelekkan aku?
Siapa yang menjelek-jelekkan sih!?
Tapi memang benar kamu seperti itu, mau bagaimana lagi.
Iya, memang mirip sih (perumpamaannya).
Itu tanda kasih sayang kami wkwkwkwk kasih sayang, kasih sayang.
Hey, ayo kita lebih semangat lagi mumpung masih pagi.

Hmm?! Hey, selamat pagi. Huh, kamu tidak dengar? Selamat pagiiii (agak berteriak). Itu karena kamu mengacuhkanku. Aku sudah menyapamu begini. Loh, kenapa? Bukan itu maksudnya. Kita kan duduk bersebelahan, ayo kita lebih mengakrabkan diri.

Huh, keluar deh, keluar. Kamu lagi-lagi membaca buku yang sulit seperti itu? Mana, mana? Coba aku lihat (membolak-balik buku). Ah... Eh? Ini apa? Melihat yang seperti ini saja sudah bikin ngantuk. Hah, aku tidak pernah baca buku literature seperti ini sih. Ah, apa sih. Jangan sinis begitu. Kamu sepertinya cuma dingin (sifatnya) begini ke aku ya. Wah, kamu jahat sekali. Aku tidak berisik kog.

Heeeh, jadi kalau kamu disuruh memilih, kamu memilih cowok yang masa bodoh atau yang seperti aku? Uwah, sebenci itukah kamu denganku? Yah, kan aku bukan orang yang bisa baca buku dengan tenang seperti kamu. Aku pikir kita cukup cocok kog?!

Nah, dari kelas satu kita selalu sekelas dan duduk bersebelahan, meskipun terdengar lucu, bukankah ini hal yang menakjubkan? Apakah kamu pernah mendengar cerita yang seperti ini dari orang lain? Benarkan? Jadi, kamu harus membuka hatimu lebih luas lagi kepadaku. Ehhhh, sialan. Seperti biasa, kamu itu susah sekali dibujuk ya.

Bel berbunyi...

Eh, pelajaran yang pertama apa? Aku lupa.
Ekhhh, aku paling benci matematika!

Kalau begitu buka halaman 45.
Oh, pak. Saya lupa membawa buku pelajarannya.
Ichinose, kamu lagi ya?
Heheh, maaf, pak. Kalau begitu, saya akan lihat punya teman sebelah saja.

Nah, jadi, perlihatkan bukunya ke aku juga. Eh, aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah menghitung sudah berapa kali aku lupa (membawa buku pelajaran). Eheheh, terima kasih.

Hey, hey (dengan suara kecil). Coba lihat, ini muka orang tidur. Eh, apa sih, jadi kamu mengabaikanku? Habis pelajarannya membosankan. Hmmmh, oh? Hey, kalau dilihat dari samping, dadamu cukup berisi juga ya?

Braakkkkk...

Oi, kita sedang belajar ya!

Wwkwkwkwkwkwkwkwkwk kamu jadi dimarahi. Aku kan cuma memuji. Yaa itu kan normal buat anak SMA kalau tertarik sama "dada" perempuan. Eh, kenapa? Jadi, kamu tidak pernah membaca buku erotis atau nonton AV sama sekali? Oh? Melihat reaksimu, sepertinya kamu pernah.

Plakkk... (sepertinya ceweknya memukul bahu Tsukasa)

Hey, yang disana. Sudah cukup!
Wkwkwkwkwkwkwkwk bodoh, bodoh (mengolok-olok si cewek).
Ichinose. Itu juga peringatan buat kamu.
Eeeeh? Saya juga, pak?
Daritadi saya lihat, jadi saya tau. Kalian berdua, setelah pelajaran selesai, datanglah ke ruang guru.

Track 02:Perpustakaan setelah jam pulang sekolah (放課後の図書室)

Ahhh, tidak bisa, aku sudah lelah. Bicara sedikit saja dikasih tugas seperti ini. Pak guru bercanda nih. Ah, aku sudah mengerjakannya selama lima menit. Aku sudah tidak tahan. Kalau sudah begini, melihatnya saja aku mau muntah.

Hey, apa kamu marah? Ya, gara-gara aku kamu dapat hukuman juga. Oh, begitu. Ternyata kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Kamu tuh pakai make-up ya? Ah, tidak apa-apa. Aku pikir kamu cantik.

Eh?!! (tersadar) Haaah, bukan. Yang tadi bukan, bukan soal kamu kog. Perpustakaan. Iya, maksudku buku-buku yang disusun secara rapi di perpustakaan ini terlihat cantik. I-iya begitu, tidak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, kamu kan sering membaca buku, apakah kamu sering kesini? Hah, setiap hari? Kamu suka banget ya? Oh, jadi begitu.

Anu, kalau selain buku, apa ada lagi yang kamu suka? Sepertinya kamu tidak tertarik membicarakan hal-hal yang biasanya di omongin sama anak cewek. Iya, begitu, misalnya, tentang cowok yang kamu suka, dan lain-lain. Oh, kalau kamu bilang tidak ada urusannya denganku, ya benar juga sih. Hmm. Eh? Be-benaran? Jadi tidak ada ya eheh. Yes!!! (dengan suara kecil).

Jadi, tipe cowok yang kamu suka bagaimana? Biasanya cewek kan seperti itu, ngomongin tentang "aku suka orang yang begini atau yang begitu". Anak-anak dikelas juga sering ngomong tentang hal itu. O-oh, cowok yang dewasa dan lembut? Maksudnya, kamu suka cowok yang lebih tua? O-o-oh, jadi yang seumuran juga OK? (nada senang).

Hah? Aoyama? Siapa tuh? Anak kelas A? Ah, ah, aku tahu. Si cowok ganteng yang sering diributkan cewek-cewek itu?! Eh, apa? Jadi orang seperti dia itu juga tipemu? Oh (kesal) cewek memang suka yang seperti itu ya.

Hah, aku tidak marah kog. Cuma aku pikir orang populer seperti dia pasti ada alasannya. Haaah? Orang sepertiku mana populer? Dipikir bagaimanapun, sepertinya itu cuma lelucon. Berdasarkan gosip katamu? Apakah itu memang benar? Yah, kalau memang ada cewek yang suka sama aku, dia harusnya bilang ke aku dong. Tapi kan kalau kamu suka seseorang, kamu harus bilang, kalau tidak, bagaimana dia tahu?

H-hah? Kenapa jadi mau ngomongin masalah percintaanku? A-a..., iya sih. Kalau aku saja yang bertanya jadi tidak adil. Aku ada, ada orang yang aku suka. Aku menyukainya sejak kelas satu (sekarang mereka kelas tiga). Orang yang sama, tidak pernah berubah. Iya ya, cintaku bertepuk sebelah tangan selama tiga tahun. Dia sih sepertinya tidak pernah menganggapku sebagai target "cinta"-nya.
For your information, di situs official drama ini memang disebutkan kalau Ichinose Tsukasa ini terkenal dikalangan anak cewek karena sifat blak-blakannya dia, tapi dia nggak aware gitu deh (・∀・ )♡
Bel berbunyi...

Ah, gawat. Pada akhirnya aku tidak bisa mengerjakan tugas ini. Oh? Eh? Ini kan... A-ah maaf ya. Aku tidak menyangka kamu mau memperlihatkan jawabanmu. Padahal kamu tadi marah kan, aku pikir kamu akan mengerjakannya sendiri dan mengacuhkanku. Oh, be-begitu? Kamu orangnya baik juga.

Ah, terima kasih. Aku akan mengerjakannya dengan benar (maksudnya nyontek? wkwk). Eh, ada apa dengan tanganmu ini? Hah, hahahahah. Kamu pikir aku anak kecil? Aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ahahahah, baiklah, baiklah, aku akan barjanji.

Yubikiri genman uso tsuitara hari senbon, nomasu, yubi kitta (janji kelingking, jika aku berbohong aku akan menelan seribu jarum, perjanjian dibuat). Iya, aku mengerti. Aku berjanji.

Track 03:Komite eksekutif festival olahraga (体育祭実行委員)

Eh? Apa yang sedang kamu lakukan? Sekarang kan masih jam pelajaran (olahraga). Aku tadi baru selesai bermain basket dan ingin ke ruang kesehatan. Kamu juga?

Eh, eh. Sepertinya kakimu terluka parah. Apa yang terjadi? Ah, iya. Dari kelas satu, kamu kan sering terjatuh dan kakimu jadi sering terluka. Sebegitu buruknya kah kamu dalam berolahraga? Pada akhirnya kakimu juga kan yang terluka.

Hah, apa boleh buat (menggendong?). Pegangan yang erat agar kamu tidak terjatuh. Sudah, jangan bergerak. Mana mungkin aku membiarkanmu berjalan sendiri dengan luka seperti ini? Yah, kalau digendong begini memang terlihat memalukan, tapi tahanlah sebentar. Hmm, kalau begini sih tidak masalah. Ayo kita pergi.

Membuka pintu...

Permisi. Uwah, ini keadaan yang buruk. Tidak ada siapapun. Baiklah, aku yang akan menangani lukamu. Pas aktivitas klub (basket) aku juga sering melakukannya, jadi aku sudah terbiasa. Aku sudah bilang tidak apa-apa. Nah, sinikan kakimu. Mungkin agak sedikit perih, jadi tahan ya.

Wah, lukanya cukup dalam. Aduh, sakit ya? Maaf. Aku akan segera menyelesaikannya, jadi tahan sedikit lagi. Yah tentunya aku lebih berhati-hati dari biasanya. Kalau aku sendiri sih biasa saja, tapi kamu kan cewek, jadi setidaknya aku akan membuat lukanya tidak berbekas.

Hah? Kenapa kamu jadi diam begitu? Oh? Apa aku terlalu kuat membersihkannya? Hah? Apa yang kamu katakan? Tiba-tiba. Ka-kalau cuma seperti ini biasa saja tuh. Cuma luka begini, aku bisa menanganinya.

Aku tidak akan melakukannya pada cewek lain! Aku tidak akan... seperti ini... selain ke kamu (berkata dengan lirih). Hhhh-hey. Sudah selesai nih.

Oh iya, sebentar lagi festival olahraga. Oh, apa? Apa kamu tidak menyukainya? Ah, hah. Iya, iya. Tentang relay kelas ya? Yah, memang sih kalau diri sendiri melakukan kesalahan lalu merepotkan yang lain, kita akan tertekan. Ahahah, benar. Kamu sepertinya akan terjatuh.

Ah yah, mungkin semua orang yang lemah dalam olahraga akan berpikir seperti itu. Begitu kah? Jadi, kamu mengkhawatirkan itu. Bahkan orang sepertimu juga memikirkan hal yang seperti itu. Oke, baiklah. Aku akan memecahkan kekhawatiranmu itu. Ya. Maka dari itu, tenanglah. Serahkan padaku. Eheheh^^

Nah, festival olahraga bulan depan, akan dipilih perwakilan kelas (untuk komite eksekutif). Apakah ada yang bersedia (sukarela)?
Pak, pak, pak, pak. Saya akan melakukannya, pak.
Oh, jadi perwakilan laki-laki Ichinose ya. Selanjutnya, perwakilan perempuan?
Pak (Ichinose mengangkat tangan si cewek). Dia bilang dia yang akan menjadi perwakilannya.
Oh, apakah itu benar? (si cewek terlalu terkejut untuk menjawab dan menolak)
Wah, kalau perwakilannya ditentukan secepat ini, ini sangat membantu bapak. Jadi, mohon kerjasamanya ya.
Iya, sudah diputuskan. Kami akan melakukannya dengan semangat.
Ya, yang lain, beri tepuk tangan.
Hyuu hyuu〜*
Kalian berdua yang semangat ya!

Sudah, sudah, tidak apa-apa kan? Baiklah, baiklah. Nanti aku akan menjelaskannya, oke?

Track 04:Dua tahun yang lalu, hari itu (二年前のあの日)

Oiii... Oiii...

Aku bilang kan akan menjelaskannya, kenapa kamu pulang duluan? Ah, tunggu. Haa, kenapa kamu marah? Eh? tentang perwakilan komite? Uh, apaan. Kan tidak ada yang bilang kalau yang lemah dalam olahraga tidak bisa melakukannya?

Itu karena kamu tidak percaya diri jadi kamu tidak mau terlihat mencolok kan? Hmm, aku sudah memikirkan ini sejak dulu, kalau kamu itu selalu melihat kebelakang kalau soal yang begini. Meskipun kamu adalah orang yang bertanggung jawab lebih dari siapapun dan selalu bekerja keras.

Aku menilai kamu adalah orang yang kompeten dan bisa melakukannya. Maka dari itu aku ingin melakukannya denganmu. Itu tidak salah. Jangan bilang, “Orang sepertiku...”. Aku tidak yakin kalau kamu ingat atau tidak, tetapi aku pernah terselamatkan karena kata-katamu.

Waktu itu, kelas satu, musim panas. Waktu itu aku baru masuk klub basket. Aku ingin masuk tim inti, jadi setiap hari aku berlatih sampai larut malam sendirian. Tapi kenyataannya, masih banyak orang yang lebih baik dariku. Orang yang terpilih bahkan tidak latihan sama sekali, melihat itu aku jadi kesal sendiri, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan keadaan dimana aku tidak bisa melakukannya, hari demi hari berlalu, aku pernah berpikir jika lebih baik aku berhenti saja. Hingga pada saat itu sih...

Flashback...

Oh, mengagetkan saja. Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu mau tetap disini? Aku juga deh, setelah kegiatan klub selesai, aku berlatih sedikit. Oh, iya, kita baru ngobrol lagi ya, dari sejak upacara masuk waktu itu. Yah, padahal kita kan duduk bersebelahan. Heheh, ini cukup aneh.

Begitukah? Yah, orang-orang disekitarku pada berisik semua sih. Jadi, apa yang kamu lakukan? Hah, kalau itu sih suruh yang lain saja yang mengerjakan. Persiapan festival budaya ini lambat kan bukan karena kamu. Ada beberapa orang juga yang malah tidak mengerjakan.

Yah, bukan itu maksudku. Maksudku, kamu tidak perlu bekerja keras sendirian. Malah seharusnya yang mengerjakan ini adalah perwakilan komite festival budaya. Bukan, bukan. Itu sih kamu sendiri yang ingin melakukannya. Kenapa kamu sangat bekerja keras atas kerjaan orang lain? Bahkan sampai selarut ini, mengerjakan kerjaan sebanyak ini.

Kamu malah membuat orang yang tidak mengerjakan jadi keenakan. Apakah kamu tidak kesal? Itu salah. Bahkan tidak ada yang tahu kalau kamu bekerja keras seperti ini. Jika hasilnya malah tidak bagus, bukankah itu menyakitkan?

Kenapa sih dia? Dia mengerjakan perkerjaan orang lain dengan mudahnya dan bilang kalau dia suka melakukan hal itu? Memangnya itu normal?

Apa sih, seharusnya kamu juga memikirkan untuk membuat orang lain mengakui pekerjaanmu. Ah, betul juga. Memang benar aku bermain basket karena aku menyukainya.

“Ah, apakah tadi aku mengatakannya dengan bangga? Karena banyak hal, aku tidak pernah berpikir untuk apa aku bermain basket. Aku bermain karena aku menyukainya. Iya. Benar begitu. Alasannya semudah itu. Aku malah melupakannya. Aku baru menyadarinya setelah sekian lama.”

Oh, ma-maaf. Sepertinya tadi aku melamun. Bukan. Karena kata-katamu tadi sangat menohok, itu seperti memukul kepalaku.

“Jika dia tidak mengatakannya, mungkin aku tidak akan pernah menyadari hal itu.”

Back to the present...

Jadi, begitulah. Kata-katamu itu sungguh menyelamatkanku. Pada waktu itu aku berpikir, “Ah, sepertinya aku belum cukup bekerja keras.” Jadi aku terus melanjutkan aktivitas klub. Terima kasih yaa.

Melihat kamu yang bekerja keras untuk orang lain, aku benar-benar menghargainya. Untuk festival olahraga ini saja kamu bilang kamu tidak ingin merepotkan yang lain, kamu lagi-lagi memikirkan orang lain. Kamu yang seperti itu, aku pikir, kamu benar-benar hebat.

Ja-jadi, jika kamu dalam masalah, aku akan membantumu. Jika kamu khawatir, aku akan memecahkannya. Tidak apa-apa. Kalau soal kamu yang lemah dalam berolahraga, aku yang akan memperbaikinya. Itu kan sudah ditentukan. Mulai besok kita akan melakukan pelatihan khusus. Iya, pelatihan khusus. Aku akan menjadi pelatih eksklusif-mu. Aku akan melatihmu dengan keras, jadi bersiaplah^^

Track 05:Latihan khusus (ふたりだけの特訓)

Dengar ya, poin terpenting dalam "berlari" ada tiga. Pergerakan kaki, postur tubuh dan ayunan tangan. Menurut pengamatanku, bagian yang terlemah darimu adalah pergerakan kaki. Pergerakan dimana kakimu menyentuh tanah, langkah perlangkah, itu sangat lambat. Bisa dibilang, itu seperti kamu berjalan kaki. Mengerti kan? Eheh, oke. Aku akan mempraktekannya, jadi lihat dengan saksama ya.

Oh? Kenapa kamu meminta maaf? Bodoh. Aku tidak pernah berpikir kalau ini merepotkan. Jika aku meminjam kata-katamu, aku melakukan ini karena aku suka. Eheh, jadi kamu tidak usah merasa tidak enak seperti itu. Hmm hmm. Oke. Ayo kita mulai latihannya!

Oi, oi. Kamu terlalu cepat berhenti. Padahal kamu baru saja mulai berlari. Apakah kamu tidak bisa menggunakan kakimu? Badanmu juga kaku. Pasti kamu jarang meregangkan badanmu kan? Hey, tidak boleh. Mulai sekarang, setelah mandi kamu harus meregangkannya ya. Hmm, aku akan memberitahu cara yang mudah, pertama-tama, duduk dan lebarkan kakimu. Iya, begitu. Aku akan menekan badanmu dari belakang, jadi jatuhkan tanganmu kedepan. Mulai. Satu, dua!

Ahahahah. Kenapa kamu berteriak? Yah, badanmu memang harus jatuh kedepan. Badanmu ini sangat kaku. Apa yang sudah terjadi? Wkwkwkwk. Apa kamu mau aku yang melakukannya? Jangan menyesal ya. Hehemmm, hey. Ahahahah, pasti kamu iri kan? Kalau begitu, setiap selesai mandi, lakukanlah sedikit demi sedikit. Meskipun cuma beberapa hari, pasti akan ada perubahan. Kamu itu, meskipun kakimu lentur tapi badanmu kaku, apakah itu keahlianmu?

Hop. Hop. Aku bisa dengan mudah menghindar jika seranganmu lemah seperti itu. Ahahahah, Hueiii, hahahah. Ahahah. Kakimu lamban sekali. Sudahlah, berhenti saja. Kamu terlalu lamban untuk mengikuti gerakanku. Eh, tapi aku tidak sedang lari loh. Sudah, sudah, jangan dipaksakan. Nanti kakimu tersandung la... Ah, bahaya!

Brukkkkk...

Owhhh, sakit. Oi, apa kamu baik-baik saja? Kan sudah aku bilang, jangan dipaksakan. Aaaah?!!!! A... Kamu, cepatlah menyingkir. Bu-bukan. Itu, dadamu..., dadamu terus-terusan menyentuhku, aku lagi berjuang disini (supaya tidak menyentuh dadanya), jadi cepatlah menyingkir. Aku mohon.

Uh, ah. Itu sangat berbahaya (dengan suara kecil). Eh, kenapa kamu melihatku seperti itu? Bukankah itu wajar? Aku sudah mengatakannya waktu itu, aku ini tidak lain adalah anak SMA yang normal dan sehat.

Lagipula apa yang kamu pikirkan? Oh? Oh? Duh, yang tadi cukup membuatku kesal. Biasanya aku cuma menganggap hal itu sebagai lelucon, tapi aku juga laki-laki yang punya kesadaran. Tapi cuma kamu sih... (lirih). Hah? Ah, tidak apa. Ayo, sebaiknya kita pulang. Mulai besok aku akan lebih ketat lagi. Jadi bersiaplah, bodoh^^.

Yes, OK!

Wah, hebat sekali. Catatan waktumu bertambah cepat. Coba lihat. Aku tidak menyangka hasil berlatih dua pekan seperti ini. Kamu benar-benar hebat. Aku ikut senang. Benaran. Kamu sudah berlatih dengan keras (memeluk).

Ah, oh. Maaf. Aku terlalu antusias jadi... Tiba-tiba dipeluk seperti itu, pasti kamu juga tidak suka. Aku benar-benar minta maaf. Sudah kubilang jangan dipaksakan, kamu terlalu baik padaku. Heh? Oh, jadi begitu. Jika kamu tidak keberatan sih tidak apa-apa. Uhm.

A-anu. Sekalian saja, jadi... pas pulang, ayo kita makan dulu. Eh, itu, anggap saja itu hadiah untukmu karena sudah bekerja keras. Apapun yang kamu mau, aku akan membelikannya. Sudah kubilang tidak apa. Tidak usah sungkan. Lagipula aku yang ingin makan kog. Tidak mau... ya? Ah, baguslah^^ Oke. Jika sudah ganti baju, kita bertemu didepan gerbang (sekolah) ya.

Oi, oi, oi, oi, oi, oi... Tunggu sebentar! Dari semua pilihan, kamu mau makan pancake? Terus, tempatnya kerlap kerlip begini? Terus, yang ada disini cewek semua lagi? Bukankah aku akan terlihat mencolok disini? (cowok sendiri).

Iya, daritadi banyak yang curi-curi pandang, aku jadi malu. Ya tentu saja aku tidak bisa mengacuhkannya. Hah, baik, baik. Aku mengerti. Yah, kalau kamu maunya kesini mau bagaimana lagi. Aku sih terserah saja. Pilih saja yang kamu inginkan, nanti kan kita bisa makan setengah-setengah. Oh, oke saja.

Ternyata kamu cewek normal ya. Yah, maksudnya kamu juga menyukai hal-hal yang biasanya disukai cewek. Bukankah itu tidak masalah? Seperti ketika melihat menu, kamu jadi terlihat seperti anak kecil, begitu. Aku senang melihatnya. Kenapa kamu meminta maaf? Lagipula ini bisa menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan^^. Ah, permisi. Kami ingin memesan.

Wah, ini enak sekali. Bolehkah aku mencicipi kue punyamu yang rasa stroberi itu? Heh? Eh? Kamu akan menyuapiku? Ah, tidak. Bukannya tidak boleh. Selamat makan. Aaaam.

Ah, enak. Ini juga enak. Ini seperti itu ya... Itu... Ah, tidak. Maksudku, kita seperti pasangan. Jangan meminta maaf. Aku jadi malu. Ah, apakah kamu juga mau makan kue ini? Jadi, rasa maluku bisa berpindah kepadamu setengahnya. Nah, aaaam. Enak? Ah, begitukah? Syukurlah^^.

Wah, bukankah senyumnya itu tidak adil? Senyumnya menggemaskan (bicara pelan). Ah, tidak apa-apa. Nah, tak usah pedulikan aku. Makanlah sesuka hatimu. Ah, jadi, besok juga harus semangat ya?!^^

Track 06:Retak (亀裂)

Yo, selamat pagi. Terima kasih yang kemarin ya. Aku menikmatinya. Ah, kamu makannya banyak juga^^ Kamu hampir memakan semua bagianku. Ahahah^^ Aku tidak tahu kalau kamu orang yang suka makan. Oh, ngomong-ngomong, hari ini...

Sejujurnya, ada tempat yang ingin aku kunjungi, denganmu. Ya, itu tempat yang cukup sering dikunjungi oleh anak-anak klub basket, meskipun kami cuma membaca komik yang kami anggap menarik. Kamu kan suka baca buku, kamu pasti menyukai tempat itu. Benaran? Ayo kita pergi. Kalau kegiatan klub-ku sudah selesai, kita bertemu ditempat yang kemarin.

Masuk kelas...

Hah? Kenapa? Apa-apaan coretan-coretan ini?
Yuhuu, Tsukasa. Kamu akrab sekali ya dengannya. Hah?
Yoi, Tsukasa. Kamu memang tidak bisa diremehkan. Hah?
Setiap pulang sekolah, kalian selalu berdua. Hayo, apa yang kalian lakukan?
Oi, aku tidak tau. Tolong beritahu kami dong. Iya, tolong beritahu kami.
Tolong beritahu kami asdfghjklzxcvbnm〜* (bernada mengejek).

Ini... apakah kalian yang melakukannya? A-ah, kenapa kamu marah, Tsukasa? Ka-kami cuma bercanda kog. Hal baik ataupun hal buruk, apa kalian tidak bisa membedakannya? Jangan melakukan hal yang bodoh. Cih, brengsek!

Maaf, jadi seperti ini. Aku benar-benar minta maaf!

Oh, eh? Kenapa kamu mau pulang? Aku kan sudah bilang tunggu aku selesai kegiatan klub dulu. Hah, ada apa? Kenapa kamu menyembunyikan wajahmu? Hah? Kamu... apa yang terjadi pada wajahmu? Tidak mungkin jika tidak terjadi sesuatu. Apakah ada yang mengganggumu?

Ah, sebenarnya apa yang terjadi? Hah? Kamu bilang lebih baik aku tidak ikut campur? Berhenti berbicara denganmu, katamu? Kenapa? Jangan bercanda. Kamu bilang supaya aku menjauh, aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Hah, tidak. Jadi, aku tidak boleh ikut campur dan kamu akan tetap diganggu oleh mereka? Jangan bercanda!

Beritahu aku siapa dan dimana orangnya. Aku akan menemui orang itu langsung. Kenapa kamu menghentikanku? Jangan bercanda. Kenapa kamu lebih memilih mendengarkan orang itu? Kamu kan tidak berbuat salah. Hah? Oi.

Hah, brengsek. Dia bilang untuk mengakhirinya. Tolong jangan bilang seperti itu. Aku...

Track 07:Aku mencintaimu (大好きです)

Halo? Ah, ini aku, Ichinose. Tunggu, tolong jangan ditutup (teleponnya). Maaf, aku meminta nomor teleponmu dari salah satu anak dikelas (kita). Aku baru sadar kalau aku tidak pernah meminta kontakmu. Ah, ya. Kamu juga akhir-akhir ini tidak masuk jadi aku khawatir.

Apakah kondisimu baik-baik saja? Begitukah? Jangan memaksakan diri, tapi aku senang mendengar kabarmu yang baik-baik saja. Anu, apa sekarang kamu punya waktu? Ada yang harus kuberikan padamu. Aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak ingin bertemu. Tapi, kalau bisa, aku ingin mengantarnya langsung. Ah, terima kasih. Aku akan ke rumahmu sekitar 10 menit lagi.

Maaf aku telat dan sudah membuatmu menunggu. Sudah lama tidak berjumpa. Ah, anu, yang mau kuberikan adalah ini. Nih, buka saja. Iya, itu adalah jadwal latihan yang kubuat. Jadi meskipun aku tidak ada, kamu bisa melakukannya sendiri. Bukankah itu sudah semestinya? Aku membuatnya untukmu, untuk siapa lagi?

Aku tidak pernah berpikir aku terluka karena hal itu. Bisa dibilang, yang terluka kan kamu. Ah, itu karena aku, maaf. Padahal kamu tidak punya salah apapun, kamu juga sudah bekerja keras dari yang lain. Aku tidak ingin waktu dimana kamu berusaha terbuang sia-sia karena hal (perundungan) itu dan menganggap (latihan khusus) itu tidak pernah terjadi, aku tidak mau.

Jadi, aku mohon. Datanglah pada hari festival (olahraga). Kamu pasti bisa melakukannya. Aku akan membuatmu bisa melakukannya. Ah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku pulang ya.

Anu, kamu pernah mengatakan kalau kita ini tidak cocok, apakah kamu sungguh-sungguh? Saat kita latihan bersama, saat kita makan pancake bersama sambil berbicara hal yang konyol dan tertawa, apakah kamu benar-benar berpikir seperti itu? Aku... semua waktu yang kuhabiskan bersamamu, aku menganggap semua itu nyata. Aku akan menunggumu. Aku akan menunggu. Itu saja. Dah.

Hari H...

Sial, sepertinya dia memang tidak datang. Oh?!! (berlari). Ah, kamu? Kamu benar-benar datang. Terimakasih. Aku sangat senang. Euah, ada apa? Jangan seperti itu, tegakkan kepalamu. Ah, kalau hal itu, aku juga sama. Waktu yang kuhabiskan bersamamu sangat menyenangkan.

Oh, bukan. Yang seharusnya minta maaf adalah aku. Bukan seperti itu. Dari awal, ini adalah keegoisanku. Aku bilang aku akan melatihmu secara khusus, tetapi sebenarnya aku hanya ingin bersamamu.

Dimana aku berbicara dengan berisik, dimana aku mengganggumu, membuatmu jengkel dan marah, aku melakukannya dengan sengaja. Karena aku ingin kamu “menyadari” keberadaanku sedikit saja. Karena aku selalu... mencintaimu!

Pada hari itu (hari flashback diatas), tidak salah lagi kalau aku telah jatuh cinta padamu. Sejak hari itu, kamu telah menjadi orang yang spesial dihatiku. Tapi karena kita selalu duduk bersebelahan, sepertinya jarak antara (hati) kita semakin menjauh. Ah, bukannya memang seharusnya seperti itu ya hahah karena aku selalu mengatakan hal yang tidak kamu sukai. Sepertinya benar kalau aku ini mirip anak kecil (yang nakal).

Aku memang berpura-pura santai akan hal itu, tetapi aku hanya takut jika perasaanku yang sebenarnya terlihat. Aku tidak bisa menyampaikan perasaanku selama tiga tahun, aku terlihat sangat menyedihkan. Jadi, ketika kamu memberitahuku kekhawatiranmu pada saat kita diruang kesehatan waktu itu, aku berpikir bahwa itu adalah kesempatanku.

Aku pikir bisa saja kita akan menjadi dekat. Tapi jika dilihat dari pandanganmu, sepertinya aku malah mengganggumu. Tapi, aku senang, menghabiskan waktu denganmu. Aku benar-benar, sangat senang.

Karena keegoisanku, aku pikir tidak apa-apa aku begitu, Aku benar-benar minta maaf. Maka dari itu, yang seharusnya minta maaf bukan kamu, tapi aku. Aku benar-benar... minta maaf. Dan aku... menyukaimu. Benar-benar suka padamu. Ah, akhirnya aku bisa menyampaikannya.

Eeeh?! Maaf, apakah kamu tidak menyukainya sampai-sampai kamu menangis? Ah, gawat. Aku tidak membawa apapun (maksudnya seperti baju atau tissue untuk ngelap airmata). Eh? Airmata bahagia? Eh? Eeeeeeeeeeh? Ka-kamu, benar-benar mengatakannya? Eh, kamu tidak berbohong kan? Aku tidak akan terima jika kamu nanti bilang kalau kamu hanya bercanda ya!

Eaah... AAAAAAAAAAAAH, HORE!!!!

Gawat, aku sangat senang. Benaran, ya? Ha ha ha. Sepertinya sekarang aku adalah orang yang paling bahagia didunia. Bagaimana ini? HEY, KALIAN DENGAR. AKU AKAN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ORANG YANG AKU SUKAI.

Habisnya aku sangat senang. Akhirnya perasaan orang yang kusukai selama tiga tahun sama denganku. Ah, benar-benar gawat. Mungkin aku tidak peduli lagi dengan lomba relay-nya. Ahahah, aku cuma bercanda. Kamu sudah berusaha keras, ini juga merupakan hal penting untukku.

Ah, gawat. Lombanya akan segera dimulai. Ayo, sini tanganmu. Kamu pasti bisa melakukannya. Jika kamu kesulitan, pikirkan saja aku. Kiss. Dengan ini, pikiranmu akan penuh denganku hihi^^.

Huaah, anak-anak kelas kita sangat gembira. Bukankah kondisi mereka terlihat sangat baik? (setelah lomba). Yah, sudah pasti gembira, karena siapa sangka kelas kita bisa melakukan relay dengan baik. Mereka bilang kamu sangat hebat. Ini juga karena kita berusaha. Syukurlah hasil dari latihan khususnya tidak sia-sia.

Bukan begitu, itu karena kekuatanmu sendiri makanya kita bisa menang dan aku cuma menyesuaikan saja. Kamulah yang sudah bekerja keras. Hhh, ya, mari bersulang, yah walaupun cuma jus^^ Hari ini yang simple saja.

Anu, aku mau mengatakan, terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku sangat-sangat senang karena kamu datang hari ini. Hmm, hey, bisakah kamu jangan memanggilku Ichinose-kun lagi? Panggil aku Tsukasa. Kamu kan pacarku. Heh, jadi kamu malu saat memanggil namaku^^

Malu disini bukan malu yang 'shame' tapi lebih ke 'shy' gitu, kayak 'tersipu' gitu loh.

Ooooh, eheheh. Tidak. Mulai sekarang aku akan lebih sering menggodamu. Membuatmu memanggil namaku saja itu belum cukup. Eh, apa? Apa kamu ingin aku mengatakannya langsung? Hmm, kamu jahat sekali^^. Kiss. Mukamu jadi merah. Benar-benar menggemaskan.

Aku tidak sedang menggodamu. Aku hanya mengatakannya kepada pacarku yang memang menggemaskan. Hey, sekarang lihatlah aku dengan benar. Kenapa? Aku ingin melihatmu yang menggemaskan ini. Kiss. Kiss. Ayo, coba sebut namaku, dengan bibir ini. Kiss. Coba panggil, panggil Tsukasa.

Hmm? Suaramu kecil sekali jadi aku tidak mendengarnya. Hmm, tidak terdengar. Sayang sekali, waktunya sudah habis. Kiss. Bodoh, bukankah sudah seharusnya? Orang yang kucintai akhirnya jadi milikku. Rambutmu, tanganmu, bibirmu, sudah pasti aku ingin menyentuhnya. Selalu!

Aku mencintaimu. Aku mencintai dirimu. Sangat-sangat mencintaimu. Mulai sekarang, buatlah aku makin tergila-gila padamu. Heheh^^

Track 08:Kekasihku (俺だけの恋人)

Pintu dibuka...

Kamu, kenapa kamu duduk dipojok? Lagipula kenapa kamu duduk formal seperti itu? Ahahah, apakah kamu sangat gugup? Yah, inikan pertama kalinya kamu kesini (ke kamar Tsukasa). Jangan terlalu tegang seperti itu. Tidak apa-apa, lagipula tidak ada siapa-siapa disini (selain kita). Nah, mendekatlah.

Haaaah, akhirnya ujian tengah semester berakhir. Aku benar-benar kelelahan. Pasti kali ini aku juga akan banyak dapat nilai merah. Mau bagaimana lagi? Aku tidak suka belajar. Ah, benar, setidaknya aku tertolong karena nilai olahraga. Jika aku gagal juga mendapatkan rekomendasinya, pasti ayah akan memukulku.

Biasanya jika nilai pelajaran buruk, tetapi nilai pendidikan jasmani-nya sangat baik dimana orang ybs memiliki bakat dibidang olahraga tertentu, maka dia bisa mendapatkan surat rekomendasi untuk masuk universitas lewat jalur prestasi/bakat olahraga.

Kamu benar-benar hebat ya. Kamu bisa belajar dengan gigih seperti itu lalu diterima dikampus pilihanmu. Aku benar-benar mengaguminya. Ah, keluar lagi kebiasaanmu. Kamu kan sudah berjanji untuk tidak mengatakan “Orang sepertiku...” lagi.

Kamu harus lebih percaya diri terhadap dirimu sendiri. Yah, meskipun sifatmu yang (terlalu berhati-hati dalam bicara) seperti itu cukup menggemaskan. Sudah pasti, mana ada cowok yang tidak memuji cewek yang dia sukai.

Tapi, setelah kita lulus sekolah, aku sedih ketika memikirkan kita tidak bisa bertemu setiap hari seperti ini lagi. Bahkan mungkin bertemu dua hari sekali pun akan sulit. Kenapa? Sepertinya kamu biasa-biasa saja. Aku pikir kamu akan terlihat kesepian.

Lagipula, aku cukup khawatir. Kamu sangat menggemaskan, jadi pasti banyak cowok yang akan mendekatimu. Ini adalah kekhawatiran terbesarku sebagai pacar. Meskipun kamu berpikir sebaliknya, pasti akan ada cowok yang mendekatimu. Hah, kamu benar-benar tidak mengerti ya.

Sifatmu yang tidak peka terhadap bahaya itu membuatku kesal. Mungkin lebih baik aku membuat tanda dilehermu. Iya, tanda bahwa kamu adalah milikku. Jadi, cowok lain tidak akan mendekat. Ah, kalau kita bicara tentang tanda, kalau bukan dileher juga bisa kan. Seperti ini...

Kiss, kiss, kiss, kiss, kiss.

Ahahah, apa kamu terkejut? “Apa” katamu? Aku cuma meninggalkan bekas sedikit. Ahahah. Jarang sekali aku melihat mukamu memerah seperti ini, sangat menggemaskan. Memangnya kenapa? Kamu kan memang menggemaskan. Kiss.

Oh? Aku lupa bilang sesuatu. Orang rumah, tidak akan ada yang pulang malam ini. Maksudku, dirumah ini hanya ada kita berdua. Iya, apa yang akan kita lakukan ya? Bodoh, kamu pikir aku akan membiarkanmu pulang semudah itu? (menggoda). Mumpung tidak ada yang mengganggu kita, aku ingin lebih bersenang-senang denganmu. Kiss, kiss, kiss.

Hey, bolehkan? Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku cukup tenang kog. Heheh, kamu harusnya yang harus tenang. Lihat, baru begini saja, aku mendengar detak jantungmu seakan-akan mau meledak. Sepertinya kamu gugup memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.

Hey, apakah kamu tahu? Biasanya jika tebakanku benar, kamu akan segera mengalihkan pandanganmu kearah kiri. Heheh^^ kamu benar-benar sangat menggemaskan. Aduh, aku sudah tidak tahan. Kamu sangat menggemaskan, jadi aku tidak bisa menahannya lagi. Deep kiss.

Hey, kalau aku lebih mencintaimu dari ini, aku akan jadi seperti apa ya? Sejak tahun pertama (sekolah SMA) sampai sekarang, kamu selalu duduk disebelahku. Semenjak kita pacaran, aku selalu memandang wajahmu dari samping. Setiap aku memandangmu, aku selalu ingin memeluk dan menciummu. Kiss.

Mulai sekarang, apakah kamu akan selalu berada disampingku? Hehe, terima kasih. Aku juga. Aku akan selalu ada disampingmu . Selalu^^. Kiss.

Binnalette
Binnalette in wonderland, made with